Pages

Minggu, 13 Juni 2010

Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas

Judul Buku

: Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas

Dikarang oleh; M. Furqon Hidayatullah
Penerbit: Yuma Pustaka, Surakarta.Cetakan Pertama Februari 2009
Diringkas oleh; Astutiana

Berikut Ringkasan Saya:

Anjuran: Buku ini wajib dibaca oleh Para pendidik Indonesia yang ingin memiliki kekuatan untuk mengubah cara mendidik yang professional, berkarakter dan cerdas..

Buku ini mengkaji dan membahas . Peran dan fungsi guru yang memiliki peran yang st
rategies dalam menyelenggarakan pembelajaran . Karena guru merupakan jantungnya pembelajaran dalam rengka mencapai tujuan pendidikan. Dan sosok guru yang berkualitas sangat penting artinya bagi pendidikan
.
Di dalam buku ini, M. Furqon Hidayatullah, selaku penulis mencoba memaparkan secara rinci tentang nilai-nilai spirit atau ruh pendidikan yang nampaknya mulai pudar dalam dunia pendidikan, seperti kejujuran, keamanahan, etos kerja, maupun orientasi pendidikan itu sendiri.

Secara umum buku ini dibagi menjadi 11 Bab. Tiap Bab menjelaskan sub judul yang saling berhubungan dan dipaparkan dengan jelas memakai bahasa yang mudah dipahami
.
Bab I Pendahuluan

Bab ini merupakan paparan bagaimana seharusnya seorang guru. Guru harus memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan pendidikan secara holistic yang berpusat pada potensi dan kebutuhan peserta didik. Pendidik juga harus mampu menyiapkan peserta didik untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan dunia dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi. Disisi lain, pendidikan juga harus mampu membukakan mata hati peserta didik untuk mampu melihat masalah-masalah bangsa dan dunia seperti, kemiskinan, kelaparan, kesenjangan, ketidakadilan, dan persoalan lingkungan hidup.

Diperlukan sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas. Guru berkarakter kuat. Ia bukan hanya mampu mengajar tetapi ia juga mampu mendidik. Ia bukan hanya mampu menstransfer pengetahuan ( transfer of knowledge ) tetapi ia juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidupnya. Guru yang cerdas. Ia bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual tetapi juga memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual sehingga guru mampu membuka mata hati peserta didik untuk belajar, dan selanjutnya mampu hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas, diharapkan mampu mengemban amanah dalam mendidik peserta didiknya. Guru harus memiliki kompetensi utama yang harus melekat pada guru. Yaitu nilai-nilai keamanahan, keteladanan, dan mampu melakukan pendekatan pedagogis serta mampu berpikir dan bertindak cerdas.

Bab II. Lagu, Tembang, dan Himne tentang Guru.

Himne Guru L/S; Sartono.
Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan terukir di dalam hatiku

Menggambarkan bahwa guru adalah profesi yang mulia, penuh pengabdian, dan memiliki peran yang sangat penting dalam menyiapkan sumber daya manusia(SDM) bangsa.

Dhandang Gula.( Serat Wulangreh, PB IV)
Ingkang wus tumukul
Tan mikir pawehing liyan
Iku pantes yen sira guronana kaki
Sartane kawruhana

Nyanyian ini menggambarkan betapa pentingnya berguru dan mencari ilmu dengan cara yang sungguh-sungguh. Jadi guru harus memiliki kualitas tertentu, baik martabatnya, mengerti aturan, ahli ibadah, hidup sederhana, tulus dan fokus pada profesinya.

Pak Guru (Murry, Koes Plus)
Abot sanggane tugase bapak ibu guru
Saben dinane mimpin putra-putrine
Pancen pak guru kudu sabar atine
…………………….
…………………………..
Esuk lan sore penjaluke pak guru
Supoyo mulyo kabeh putra putrine

Menggambarkan betapa berat tanggungjawab seorang guru, harus memimpin, menasehati dan mendidik putra-putrinya dan berharap agar putra-putrinya hidup di jalan yang lurus, istiqomah dan mulia.

Semua Sama (Yok Koeswoyo Koes Plus)
Oh guru sungguh mulia pengabdianmu
Oh guru penuntut ilmu

Syairnya singkat yang menunjukkan betapa mulia kedudukan seorang guru. Memiliki pengabdian yang tinggi. Dan sebagai pengembang dan penutut ilmu.

Oemar Bakri (Iwan Fals)
Oemar Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri professor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Ini menggambarkn perjuangan seorang guru yang sederhana dan mampu mendidik murid-muridnya hingga pandai.Tapi profesinya belum mendapat perhatian secara wajar.

Bab III. Pendidikan Berkarakter

Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Yang dilandasi hakekat dan tujuan pendidikan.Berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan , atau pun sifat-sifat lain yang melekat pada diri pendidik.

Kenyataan, betapa lemahnya integritas guru terhadap pekerjaannya, betapa lemahnya amanah yang diemban oleh guru, dan belum bisa dijadikan teladan. Tiap tahun ada berbagai bentuk kecurangan dan pelanggaran pada saat pelaksanaan UN. Sehingga system pendidikan jadi rusak.

Pentingnya Pendidikan berkarakter.
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang system Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter bisa diubah melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi:…. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri sendiri….. (Ar Ra’d/13;11)

Platform pendidikan berkarakter bangsa Indonesia dipelopori oleh Ki Hajar Dewantoto, walaupun belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh bangsa ini. Yang berbunyi:
Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mbangun karsa, Tut wuri handayani.
Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kehendak, dan dibelakang memberikan dorongan.
Selain itu guru juga memiliki makna “digugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) Hal ini secara tidak langsung memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu profil dan penampilan guru harus menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Gambaran pendidikan berkarakter bisa dilihat pada syair tembang Dhondhong apa Salak Tembang tersebut mempunyai filosofi dan nilai yang tinggi dan bermakna. Buah kedondong kulitnya halus tapi dalamnya berduri, buah salak, kulitnya kasar tapi dalamnya halus. Keduanya tidak dipilih, yang dipilih buah duku yang kecil, kulitnya halus, dalamnya juga halus. Naik bendi tidak dipilih karena menyakiti hewan, naik becak tidak dipilih karena memeras tenaga manusia. Yang dipilih berjalan pelan-pelan. Jadi betapa indahnya jika nilai pendidikan berkarakter yang ada pada tembang tersebut melekat pada diri insan yang hidup di dunia ini. Di sisi lain juga menggambarkan betapa pentingnya mengarungi aktivitas kehidupan didasarkan kemampuan sendiri tanpa harus memberatkan , merugikan, menyusahkan atau menyengsarakan pihak lain.

Kita dapat belajar dari kisah nabi Musa AS dengan Khidir. Khidir sebagai guru dalam mendidik Musa( muridnya) ingin membangun landasan yang kokoh , yaitu membentuk karakter yang kuat pada murid, sehingga ujian mental,terutama kesabaran, kedisiplinan, keuletan yang ditanamkan oleh guru kepada muridnya. Disini terlihat bahwa dalam membangun karakter yang kuat membutuhkan suatu proses tertantu sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat mengakar.

Dari pernyataan tersebut tampak relevan jika tenaga pendidik atau guru harus memiliki karakter yang kuat dalam menjalankan tugasnya di bidang pendidikan . Guru harus memiliki kepribadian khusus yang menjadi ciri khas atau yang membedakan dengan profesi yang lain.

Bab IV. Bersyukur Menjadi Pendidik (Guru)

Di bab ini penulis memaparkan perwujudan syukur, orientasi bersyukur, dan aktualisasi bersyukur.Kekuatan bersyukur harus dimiliki oleh guru. Karena kekuatan ini turut memberikan andil yang cukup besar untuk mencapai kesuksesan. Bentuk penyikapan yang paling tepat adalah kita harus mensyukuri profesi kita. Dengan kata lain agar profesi guru menjadi sesuatu yang membahagiakan maka kita harus bersyukur . Seperti yang tertulis dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:”Jika kamu bersyukur, maka saya (Allah) akan menambah (nikmat) itu kepadamu, dan jika kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih”

Sebenarnya Guru yang bersyukur selalu fokus pada apa yang dimilikinya. Menikmati apa yang ada bukan berarti menyesali dan meratapi apa yang tidak ada atau yang hilang dari genggaman kita. Kita tidak selalu dapat memperoleh apa yang diinginkan Yang terpenting kita dapat menikmati apa yang kita miliki, sehingga kita dapat membahagiakan diri kita sendiri

Perwujudan bersyukur terhadap suatu kenikmatan yang telah diterima bukan sekedar suatu ucapan atau pernyataan tapi berkaitan dengan perbuatan atau tindakan.Maka perwujudan rasa nikmat profesi guru harus ;
1. Menerima secara positif profesi sebagai pendidik Jangan terlalu banyak ijin dan meninggalkan tugas mengajar.
2. Tidak zhalim terhadap profesi yang diemban. Jangan terlalu sering terlambat masuk kelas. Jangan mengerjakan pekerjaan lain pada jam-jam mengajar. Itu perbuatan dhalim.
3. Menjaga dan mengembangkan profesi pendidik dengan sungguh-sungguh. Tidak mau berusaha mengembangkan diri, merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki.Ini namanya tidak bersungguh-sungguh dalam mengemban profesi.

Orientasi Bersyukur. Dalam hal ini kita harus bisa menerapkan bahwa jika kita mencari ilmu kita harus melihat yang di atas sedangkan dalam mencari harta kita melihat orang yang berada di bawah kita. Ilmu adalah sebagai penerang yang mampu mengubah jalan keburukan, kebodohan dan yang melahirkan kebijakan dalam berbagai masalah-masalah kehidupan.

Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Ilmu lebih utama daripada harta, karena 7 alasan, yaitu:
1. Ilmu adalah warisan para nabi sedang harta warisan Fir’aun
2. Ilmu tidak akan berkurang karena diberikan kepada orang lain, sedang harta akan berkurang bila diberikan pada orang lain.
3. Harta perlu dijaga sedang ilmu dapat menjaga pemiliknya.
4. Jika seseorang meninggal dunia, ia akan meninggalkan hartanya, sedang ilmu akan dibawa ke dalam kubutnya
5. Harta dapat dicapai oleh orang mukmin dan kafir, sedang ilmu hanya dapat dicapai oleh orang mukmin
6. Semua orang butuh orang yang memiliki ilmu, yang mengetahuo urusan agama dan mereka tidak membutuhkan hartanya
7. Ilmu akan menguatkan seseorang dalam menyebrangi shirath (jalan menuju surga) sedangkan harta akan menghalinginya.

Ibnu Qoyyim (1996:32) menggambarkan orientasi bersyukur dengan 5 tanda-tanda keberuntungan dan kebahagiaan seseorang, yaitu;
1. Setiap ilmunya bertambah, maka bertambahlah tawadhu dan kasih sayangnya
2 Setiap amalnya bertambah, maka bertambah rasa takut dan kehati-hatiannya
3 Setiap kali umurnya bertambah, maka berkuranglah ketamakan dan kerakusannya
4 Setiap hartanya bertambah, maka bertambahlah kedermawanan dan pengorbanannya
5 Setiap kedudukannya bertambah, maka bertambahlah kedekatannya kepada sesama manusia, memenuhi kebutuhannya, dan rendah hati

Aktualisasi bersyukur. Sebagai manifestasi rasa syukur, maka bisa dilihat dari sudut pandang keberadaan, kebermaknaan, kebermanfaatan profesi kita sebagai pendidik. Peran pendidik bisa diklasifikasikan menjadi kelompok:
1. Manusia Wajib. Manusia yang keberadaan, kebermaknaan, dan kemanfaatannya sangat menentukan. Dia menjadi kunci dan menentukan.
2. Manusia Sunnah. Manusia yang kehadirannya dan keberadaannya memberi kebermaknaan dan kebermanfaatan , tetapi jika ia tidak ada tidak akan mengganggu atau menggoyahkan jalannya system penyelenggara kegiatan.
3. Manusia Mubah. Manusia yang ada atau tidak ada, hadir atau tidak hadir, ia tidak memberikan pengaruh apa-apa, tidak memberi manfaat tetapi juga tidak memberikan mudharat.
4. Manusia Makruh. Manusia yang kehadirannya dan keberadaannya tidak memberikan kebermaknaan dan kebermanfaatan, tetapi jika ia tidak ada akan memberi kenyamanan dan kebaikan jalannya system penyelenggaraan kegiatan.misalnya guru yang mengajar dengan konsep yang salah. Manusia ioni kebalikan dari manusia Sunnah.
5. Manusia Haram. Manusia yang keberadaan dan kebermaknaan, dan kebermanfaatannya sangat tidak diharapkan sama sekali. Ia sebagai “trouble maker” Kehadirannya berpengaruh negative. Manusia ini kebalikan dari Manusia Wajib.

Dari gambaran di atas diharapkan peran guru dapat memposisikan diri sebagai manusia Wajib atau setidaknya menjadi manusia Sunnah.

Bab V. Mendidik Sebagai Amanah

Dalam dunia pendidikan amanah terutama terjadi antara masyarakat sebagai pemberi amanah dan lembaga pendidikan sebagai penerima amanah. Secara khusus orangtua menyerahkan anaknya kepada guru agar dididik dan dikembangkan potensinya. Tidak mengkhianati amanah merupakn bentuk komitmen dalam mengemban amanah, terutama yang berkaitan dengan kejujuran. Banyak sekali kisah-kisah tentang kejujuran yang bisa diteladani oleh guru sebagai pendidik.
Di manakah martabat akan bersanding kalau bukan di samping kejujuran?(Cicero).

Upaya Mengemban Amanah
Agar amanah dapat diemban dengan baik, maka diperlukan upaya-upaya agar suatu lembaga tertentu dapat mengemban amanah yang dipercayakan oleh masyarakat.Terutama diperlukan adanya, komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten.

Komitmen merupakan langkah awal dalam menerima, memenuhi, dan mengemban amanah.Sebagai perwujudan langkah awal tersebut adalah adanya ikrar atau janji yang harus dipenuhi. Setidaknya ada lima hal yang berkaitan dengan komitmen yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik, yaitu:
1. Memiliki visi ke depan dan tekad dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik
2. Memiliki karakter, budi pekerti, dan akhlak yang mulia
3. Mampu mengelola dan mengontrol diri dalam mendidik peserta didik.
4. Mampu melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik
5. Bekerja keras dengan penuh pengabdian.

Dapat dikatakan bahwa komitmen seorang guru dalam mendidik adalah sebuah janji atau ikatan untuk mengemban tugas mendidik yang dilakukan sebaik-baiknya agar tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena tidak mampu, karena tidak komitmen. (Zig Ziglar, Motivator)


Kompeten. Guru yang kompeten adalah guru yang memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan pembelajaran dan kemampuan memecahkan berbagai masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Guru yang kompeten akan memberi kepercayaan diri kepada muridnya. Mampu memfasilitasi muridnya agar muridnya lebih berkompeten. Karena kompetensi merupakan kemampuan yang harus dipupuk dan dikembangkan melalui berbagai proses pembelajaran, menekuni pekerjaan, dengan sungguh-sungguh, dan bahkan berani mengambil resiko untuk menghadapi tantangan.

Kompetensi yang cukup penting adalah kompetensi yang dirumuskan oleh para ulama yang disebut dengan “Kompetensi Profetik” atau disebut dengan “Kompetensi SAFT ( SAFT competency ) . Kompetensi SAFT adalah singkatan dari “Shidiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh”
1. Kompetensi Shidiq. Pengertian shidiq dapat dijabarkan memiliki system keyakinan untuk merealisasi visi,misi dan tujuan. Dan memiliki kemampuan kepribadian yang stabil, dewasa, arif, jujur dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
2. Kompetensi Amanah. Pengertian amanah dapat dijabarkan sebagai; rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi, memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal, memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup, dan memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan
3. Kompetensi Fathonah. Pengertian fathonah dapat dijabarkan : memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan jaman, memiliki kompetensi yang unggul, bermutu, dan berdaya saing, memiliki kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual
4. Kompetensi Tabligh. Pengertian tabligh bila dijabarkan; memiliki kemampuan merealisasi pesan atau misi, memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif dan memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metode dengan tepat.

Kerja Keras. Kerja keras dapat didifinisikan sebagai kemampuan mencurahkan atau mengerahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dimiliki sampai akhir masa suatu urusan hingga tujuan tercapai. Kerja keras merupakan modal yang sangat penting dalam memperbaiki dan mengembangkan sesuatu. Upaya kerjakeras itu akan menumbuhkan tingkat kepercayan dan keyakinan seseorang dalam mencapai atau menginginkan sesuatu.

Buatlah usaha Anda berhasil dengan satu-satunya cara; kerja keras (Mark Cuban, Owner Dallas Maverick)

Konsisten. Guru dalam mengemban tugasnya harus memiliki kosistensi, berarti ia selalu istiqomah, ajeg, fokus, sabar, dan ulet. Guru selalu melakukan perbaikan secara terus menerus juga termasuk guru yang konsisten.
1. Istiqomah. Guru harus istiqomah, artinya ia harus teguh dalam memegang prinsip dan memiliki pendirian yang keras dalam bekerja selalu mendasarkan norma, aturan, dan kaidah. Ia tidak terpengaruh oleh lingkungan tetapi sebaliknya.
2. Ajeg. Guru harus secara ajeg melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaannya. Jadi seorang guru harus ajeg belajar maka ia akan selalu berkembang ilmunya. Berarti ia menerapkan prinsip belajar seumur hidup. Seperi dalam hadist dinyatakan “ Menuntut ilmu itu mulai dari ayunan bunda hingga liang lahat”
3. Fokus dan tuntas. Guru harus focus pada bidang studi keahliannya sehingga ia memiliki konsentrasi kajian yang mendalam. Berarti ia menguasai bidang studi tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.Selain itu ia juga harus mampu menyelesaikan pekerjaannya secara tuntas. Artinya sebelum menginjak pada pekerjaan berikutnya ia mampu menyelesaikan pekerjaan secara akurat.
4. Sabar dan Ulet. Guru yang konsisten, ia harus mau dan mampu melakukan sesuatu dalam dalam waktu yang relative lamawalaupun banyak cobaan , rintangan, ataupun tantangan. Renungkanlah kesabaran dan keuletan Khidir dan Musa dalam belajar mengajar. Perjalanan Nabi Muhammmad SAW bersam Zaid bin Haritsah ke Thaif. Cheng Men Lie Ye; Sabar menggapai cita-cita.

Pada masa sekarang, sarana dan media pembelajaran sangat maju dan tersedia dengan mudah. Persoalannya adalah bagaimana kerja keras, sabar,dan ulet selalu melekat pada diri kita agar dapat mengembangkannya dengan maksimal.

Bab VI. Mendidik dengan Keteladanan

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah (Al-Ahzad/33:21)

Jika keteladanan Rasulullah sebagai Al-Quran hidup diterapkan pada guru, maka seharusnya guru sebagai “Mata pelajaran hidup”:”Geografi hidup, Matematika hidup, Fisika hidup, dan sebagainya”. Artinya kedalaman dan keluasan ilmu (bidang studi) guru betul-betul terandalkan.

Faktor keteladanan yang seharusnya ada pada diri seorang guru;
1. Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Ini akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan prilakunya menjadi sorotan dan teladan.
2. Memiliki kompetensi Minimal. Maksudnya kompetensi ini bisa dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain, dapat menumbuhkan dan menciptakan keteladan, terutama bagi peserta didknya.
3. Memiliki Integritas. Integritas adalah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satu kata satu perbuatan. Letaknya pada kualitas istiqomah yang berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya.

Pendidik sebagaiCermin. Orang mu’min adalah cermin bagi orang mu’min (yang lain). Jika ia melihat cela padanya maka diperbaikinya (HR.Bukhari). Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
1. Tempat yang tepat untuk intropeksi.
2. Menerima dan menampakkan apa adanya
3. Menerima kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
4. Tudak pilih kasih/ tidak deskriminatif
5. Pandai menyimpan rahasia.

Mendidik dengan Keteladanan
1. Kesederhanaan. Guru harus pandai membawakan diri sehingga terkesan sederhana dan bersahaja tetapi punya kepiawaian dalam mengajar.
2. Kedekatan. Kedekatan hubungan guru dengan siswa sangat ini hampir tidak ada. Padahal dengan kedekatan ikatan antara guru dan murid dapat terjalin.
3. Suasana silahturahim. Fungsi silahturahim antara lain adalah menumbuhkan rasa kecintaan dan rasa saling peduli. Jika silahturahim diterapkan dalam suasana pembelajaran tentu akan kondusif baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa.
4. Pelayanan Maksimal. Maksudnya tugas utama guru adalah menfasilitasi murid, atau guru sebagai fasilitator. Memfasilitasi yang dimaksud pada hakikatnya sebagai perwujudan bentuk pelayanan guru kepada murid (guru sebagai pelayan)Guru dapat mengadopsi filosofi jawa dalam menerima, menghormati, dan melayani tamu dalam suatu perjamuan dengan empat sikap dan prilaku “4-uh”, yaitu: (1) aruh (tegur sapa) murid harus disambut ramah oleh guru; (2)gupuh (sibuk-repot) guru penuh perhatian dan melayani murid dengan sungguh-sungguh;(3) lungguh (duduk-tempat) Guru menyiapkan pembelajaran dalam suasana yang kondusif; (4)suguh (hidangan-sajian) Murid dapat menikmati pembelajaran yang menarik dari guru bagaikan mendapat hidangan yang lezat dalam suatu perjamuan.

Bab VII Mendidik dengan Hati

Hati merupakan sesuatu yang paling mulia pada diri manusia. Peran hati terhadap seluruh anggota atau organ tubuh dapat diibaratkan seperti raja dan prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya.

Kemampuan guru untuk membuka hati peserta didik sangat diperlukan. Untuk membuka hati peserta didik, guru harus berupaya membangkitkan “rasa cinta” kepada peserta didik demikian juga sebaliknya agar peserta didik memiliki rasa cinta dan bersimpati dengan gurunya. Dalam konteks cinta ini maka peran suara hati sab\ngat penting artinya sekaligus merupakan kunci keberhasilan dalam mendidik peserta didik.

Seseorang mempelajari tentang orang lain melalui hati, bukan melalui mata dan pikiran
(Mark Twin).

Untuk mengaktualisasikan pendidikan dan pembelajaran dengan suara hati, maka guru dapat mendasarkan pada:
1.Mendidik untuk mencari keridhaan Yang Maha Kuasa
2.Mendidik merupakan tugas mulia
3.Mendidik merupakan tugas utama guru

Inti pendidikan dengan hati adalah membangun sebuah motivasi yang tumbuh dari dalam diri secara ikhlas. Dengan kata lain bagaimana menumbuhkan motivasi internal untuk melakukan suatu aktivitas. Motivasi internal itu jauh lebih bermakna dalam melakukan sesuatu bila dibandingkan dengan aktivitas yang dilandasi motivasi eksternal. Dorongan inilah yang membangkitkan sebuah kesadaran dalam melakukan sesuatu, yang pada gilirannya skan membangun sebuah sistem kepercayaan atau keyakinan.

Sebaik-baik yang tertanam di dalam hati adalah keyakinan (HR. Al-Baihaqi)

Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan doamu, dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (HR. At-Tirmidzi)

Sistem Keyakinan (Believe System). Keyakinan (system keyakinan) merupakan sesuatu yang terbaik yang tertanam dalam hati seseorang. Jadi harus dibangun dengan benar dan kokoh. Karena keyakinan sangat berpengaruh dalam mewujudkan tujuan, termasuk tujuan pendidikan. Sistem keyakinan akan mengarahkan pada pada tindakan yang dilakukan. Sistem keyakinan dapat dikatakan sebagai sumber atau rohnya komitmen.

Apakah system keyakinan itu akan menjadi kenyataanatau dapat kita wujudkan atau tidak, sangat tergantung pada diri kita sendiri. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Qudsi yang berbunyi;”…..Sesungguhnya Allah berfirman;’ Aku (Tuhan) menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-ku. Dan Aku bersamanya jika ia berdo’a kepada-Ku
(HR. At-Turmudzi)

Sistem keyakinan harus dibangun melalui berbagai upaya yang diarahkan pada terwujudnya cita-cita atau tujuan sehingga dapat menumbuhkan keyakinanyang nyata serta membangkitkan semangat yang tinggi.

Bab VIII. Paradigma Pembelajaran

Fokus pembelajaran diarahkan pada upaya agar murid kelak mampu mengembangkan lebih lanjut apa yang telah didapat sewaktu studi. Sejalan harapan terseburt Indra Djati Sidi (2001:7) Proses pembelajaran di sekolah-sekolah masa depan memerlukan tujuan yang secara aktif merespons perubahan dan arus teknologi, terutama teknologi informasi
.
Dryden dan Vos (2000:107) mengemukakan bahwa belajar seharusnya memiliki tiga tujuan yaitu;
1. Mempelajari ketrampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik
2. Mengembangkan kemampuan konseptual umum, sehingga mampu belajar menerapkan konsep yang sama atau yang berkaitan dengan bidang-bidang lain yang berbeda.
3. Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala tidakan.

Sedangkan De Porter dan Hernacki (2000:8) mengemukakan bahwa kurikulum sekolah berisi kombinasi tiga unsur yang disajikan secara harmonis, yaitu;

1.Ketrampilan akademik(Academic skill)
2.Ketrmpilan hidup (Life skill)
3.Tantangan-tantangan atau kemampuan fisik(Pysical Challenges)

Maka sangat diperlukan sosok guru yang memiliki karakter kuat dan mampu berpikir dan bertindak cerdas.

Mengajar yang Mendidik. Tahap awal yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah “ Memiliki kemampuan mengajar dengan benar” selanjutnya mengembangkan diri dan “Memiliki kemampuan mengajar yang trampil dan produktif”. Artinya guru tidak hanya mampu merencanakan, melaksanakan , dan mengevaluasi pembelajaran, tetapi ia juga mampiu mengembangkannya dengan melandasi dan menanamkan nilai-nilai pendidikan.

Mengajar adalah Belajar.Guru yang konsisten dengan profesinya selalu belajar dan mengembangkan dirisetiap waktu dan sepanjang hayat. Implementasinya guru berpandangan bahwa ia bukan yang paling pintar, guru secara terbuka pada muridnya akan mencari jawaban, walau belum tahu jawabannya tapi berusaha untuk memecahkannya. Inilah salah satu fungsi guru sebagai Fasilitator atau pelayan. Di sisi lain jika guru tidak mau belajar, maka ia akan mengalami kesulitan bila dihadapkan pada pertanyaan yang diajukan muridnya. Padahal belajar juga berdampak pada suatu proses perbaikan secar terus menerus (Countinous improvement) dari seorang buru.

Suasana Pembelajaran. Suasana pembelajaran yang baik dapat digambarkan seperti “Suasana Surga”. Meminjam istilah “Rumahku adalah Surgaku”,”Sekolahku adalah Surgaku”. Maka perlu selalu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif agar hasil belajar yang diharapkan dapat meksimal.

Ada tiga indikator yang bisa membuat suasana pembelajaran yang kondusif, yaitu:
1. Menyenangkan/membahagiakan
2. Lingkungan kondusif (fisik dan non Fisik) dan
3. Layanan dan penampilan prima.

Sudiarto (2005-34) mengemukan bahwa suasana pembelajaran kondusif bisa dibantu dengan :
1. Menyediakan guru yang professional, yang seluruh waktunya untuk menjadi pendidik
2. Menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan
3. Menyediakan media pembelajaran yang kaya sehingga peserta didik belajar betul-betul menikmati belajar.

Pembelajaran yang berkualitas memiliki beberapa indicator, yaitu:
1. Pembelajaran yang menentang. Hal ini akan membuat anak didik punya rasa ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin memecahkan masalah tersebut. Tapi tingkat kesulitan pembelajaran yang menantang hendaknya disesuaikan dengan kadar kempuan peserta didik.
2. Pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong peserta didik untuk belajar dan tertarik terhadap pembelajaran tersebut.
3. Pembelajaran yang mendorong eksplorasi. Peserta didik terdorong untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sendiri pembelajaran yang telah disajikan guru sebagai tindak lanjutnya.
4. Pembelajaran yang memberi pengalaman sukses. Pengalaman sukses yang diperoleh peserta didik menumbuhkan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
5. Pmbelajaran yang mengembangkan kecakapan berfikir. Kemampuan berpikir dapat dilihat dari kretivitas peserta didik. Maka peran strategi atau metode mengajar yang dipilih guru harus tepat.

Bab IX Pendidik Unggul

Untuk membangun guru yang unggul ada tiga hal, yaitu penampilan terbaik (The best Appearance ), Sikap terbaik (The best Attitude),Prestasi terbaik(The Best Achievement):
1. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. (At-Tin:4).Penampilan Terbaik. Jika guru mampu berpenampilan positif maka murid memberi kesan positif pula. Ini akan memudahkan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Yang harus diperhatikan agar guru tampil terbaik: Posisi dan bahasa tubuh, gaya bicara dan expresi wajah, dan cara berpakaian.
2. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang yang menyerah diri?” (Fushilat/41:33).Sikap Terbaik. Hal ini bermakna betapa baiknya sikap harus ditunjukkan dan diamalkan. Manifestasi sikap yang terbaik dapat ditunjukkan pada sifat; peduli sosial dan orang lain, menebarkan salam dan kedamaian, bijak dalam bicara, santun dalam berbuat,dan baik dalam bersikap.
3. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Ia menguji kamu , siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Ia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Bekerja harus berorientasi pada hasil maksimal bukan hasil rata-rata. Agar dapat mencapai hasil maksimal kita harus berani melakukan kegiatan di luar kebiasaan rata-rata yang dilakukan orang. Untuk mewujudkan prestasi yang terbaik perlu dilakukan; Menjadi manusia yang terbaik. Kekuatannya ada pada SDM yang berkualitas, contohnya Jerman dan Jepang. Walaupun mereka kalah perang, tapi SDMnya tidak ikut hancur, sehingga mampu bangkit kembali dalam waktu yang dekat, mengunguli Negara yang menang perang.

Profil Guru Paripurna. Profil guru paripurna didsusun berdasarkan Kompetensi SAFT dan nilai-nilai yang terkandung dalam “Asmaul-Husna”(nama-nama Allah yang baik) Yang berjumlah 99. Dalam hal ini yang diketuk adalah suara hatinya

Bab X. Berpikir dan Bertidak Cerdas

Orang yang cerdik adalah orang yang dapat menaklukkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk kepada Allah. (HR. Abu Daud)

Umar bin Khattab mendifinisikan orag yang cerdas bukanlah orang yang mampu membedakan antara yang baikdan yang buruk, melainkan orang yang bisa mengetahui mana yang terbaik diantara dua kebaikan dan mana yang buruk diantara dua keburukan (Hasan Zakaria Fulaifal,2006:61). Difinisiini mencakup bukan saja aspek intelektual tapi juga mencakup aspek emosi dan spiritual.

Yang dimaksud dengan kecerdasan Intelektual (Intelegence Quotient) adalah kemampuan berurusan dengan abstraksi-abtraksi; kemampuan mempelajari sesuatu;kemampuan menangani situasi-situasi baru. Walaupun kecerdasn itelektual bukan satu-satunya factor yang menentukan keberhasilan seseorang , tetapi peran intelektual sangat penting dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis dan mensintesis objek, memberi objek , memberikan informasi tentang baik-buruk, dan untung rugi.

Sedangkan kecerdasan emosi (Emotional Quotient) adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya pada saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Stain and Book(2003:30) mengemukakan bahwa EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, yaitu aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan ,akal sehat yang penuh misteri,dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari.

Yang tak kalah penting adalah kecerdasan Spiritual (Spititual Quotient). Zohar dan Marshall (2007:4) mengemukakan bahwa kecerdasn spiritual adalah kecerdasn untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasn untuk menempatkan prilaku dan hidup kitadalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasn untuk menilai bahwa tidakan atau jaln hidup seseorang lebih bermakna disbanding dengan yang lain. Dan SQ merupakn landasan tertinggi kita. Lebih lanjut Zohar dan Marshall (2007:14) SQ berkembang mencakup hal-hal seperti berikut:
1. Kemampuan bersikap fleksibel(adaftif secara spontan dan aktif)
2. Tingkat kesadaran yang tinggi
3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. Kemampuan untuk menghadapi dan melawan rasa sakit
5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan “holistik”)
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
9. Menjadi apa yang disebut oleh psikolog sebagai “bidang mandiri”, yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Kecerdasn spiritual adalah kecerdasan ruhaniah, kecerdasn hati, dan kecerdasanjiwa. QS akan mengembalikan manusiakepada mahkuk spiritual, yang merupakn fitrah kejadiannya. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, manusia dapat berjalan menjauh dari fitrah tersebut disebabkan faktor-faktor eksternal, seperti cobaan, ujian, atau pengaruh lain. Kebahagian hakiki terletak pada pemenuhan yang bersifatspiritual tersebut.

Di dalam Islam untuk membangun kecerdasn spiritual diwujudkan dalam membangun suatu ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Taqwa memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan. Setidaknya ada tiga dimensi mengenai pentingnya taqwa dalam membangun kecerdasn spiritual, yaitu;
1. Sebaik-baik bekal hidup adalah taqwa;……Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal(Al Baqarah/2;197)
2. Semulia-mulianya kedudukan seseorang di sisi Allah adalah karena taqwanya;….Sesungguhnya semulia-mulianya kamu di sisi Allah karena ketaqwaanmu…….(Al Hujarat/49;13)
3. Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jalan keluar……..Barang siapa yang bertqwa kepada Allah niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (Ath Thalaaq/65;2)

Bab XI Penutup

Guru luar biasa adalah guru yang mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar pesrta didik dapat berkembang potensinya secara optimal

Sebagaimana yang telah diulas bahwa karakter kuat, terutama meliputi amanah dan keteladanan. Amanah dibangun atas dasar empat pilar, yaitu komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten. Sedangkan keteladanan dibangun diatas dasar tiga hal yaitu;kesederhaan , kedekatan dan pelayanan yang optimal. Adapun cerdas berkaitan dengan kecerdasn intelektual, emosi dan spiritual. Selanjutnya dari komponen tersebut dirumuskan rambu-rambu implementasi yang berupa;
A. Tujuan pembelajaran dan pendidikan yaitu;
1. Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan,
2. Menumbuhkan dan menanamkan kecerdasan emosi dan spiritual yang mewarnai aktivitas hidupnya
3. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran
4. Menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktivitas hidupnya dan memahami manfaat dari keterlibatannya
5. Menumbuhkan kebiasaan untuk memenfaatkan dan mengisi waktu luang dengan aktivitas belajar
6. Menumbuhkan pola hidup sehat dan pemeliharaan kebugaran jasman

B. Membangun Budaya Kerja. Komponen yang dijadikan acuan dalam membangun budaya kerja adalah;
1. Komitmen.2.kompeten.3. Kerja keras. 4.Kondsisten.5. Kesederhanaan.6. Kedekatan. 7. Pelayanan maksimal.8. Cerdas.

C. Profil Kerja yang diharapkan. Kinerja yang diharapkan dapat berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut;
1. Senantiasa memegang komitmen dengan sungguh-sungguh dalam mewujudkan visi,misi, dan tujuan pendidikan.
2. Senantiasa menjunjung tinggi martabat dan profesi guru
3. Senantiasa melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik.
4. Senantiasa bekerja keras dengan penuh pengabdian.


.













Judul Buku

: Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas

Dikarang oleh; M. Furqon Hidayatullah
Penerbit: Yuma Pustaka, Surakarta.Cetakan Pertama Februari 2009
Diringkas oleh; Astutiana

Berikut Ringkasan Saya:

Anjuran: Buku ini wajib dibaca oleh Para pendidik Indonesia yang ingin memiliki kekuatan untuk mengubah cara mendidik yang professional, berkarakter dan cerdas..

Buku ini mengkaji dan membahas . Peran dan fungsi guru yang memiliki peran yang st
rategies dalam menyelenggarakan pembelajaran . Karena guru merupakan jantungnya pembelajaran dalam rengka mencapai tujuan pendidikan. Dan sosok guru yang berkualitas sangat penting artinya bagi pendidikan
.
Di dalam buku ini, M. Furqon Hidayatullah, selaku penulis mencoba memaparkan secara rinci tentang nilai-nilai spirit atau ruh pendidikan yang nampaknya mulai pudar dalam dunia pendidikan, seperti kejujuran, keamanahan, etos kerja, maupun orientasi pendidikan itu sendiri.

Secara umum buku ini dibagi menjadi 11 Bab. Tiap Bab menjelaskan sub judul yang saling berhubungan dan dipaparkan dengan jelas memakai bahasa yang mudah dipahami
.
Bab I Pendahuluan

Bab ini merupakan paparan bagaimana seharusnya seorang guru. Guru harus memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan pendidikan secara holistic yang berpusat pada potensi dan kebutuhan peserta didik. Pendidik juga harus mampu menyiapkan peserta didik untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan dunia dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi. Disisi lain, pendidikan juga harus mampu membukakan mata hati peserta didik untuk mampu melihat masalah-masalah bangsa dan dunia seperti, kemiskinan, kelaparan, kesenjangan, ketidakadilan, dan persoalan lingkungan hidup.

Diperlukan sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas. Guru berkarakter kuat. Ia bukan hanya mampu mengajar tetapi ia juga mampu mendidik. Ia bukan hanya mampu menstransfer pengetahuan ( transfer of knowledge ) tetapi ia juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidupnya. Guru yang cerdas. Ia bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual tetapi juga memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual sehingga guru mampu membuka mata hati peserta didik untuk belajar, dan selanjutnya mampu hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas, diharapkan mampu mengemban amanah dalam mendidik peserta didiknya. Guru harus memiliki kompetensi utama yang harus melekat pada guru. Yaitu nilai-nilai keamanahan, keteladanan, dan mampu melakukan pendekatan pedagogis serta mampu berpikir dan bertindak cerdas.

Bab II. Lagu, Tembang, dan Himne tentang Guru.

Himne Guru L/S; Sartono.
Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan terukir di dalam hatiku

Menggambarkan bahwa guru adalah profesi yang mulia, penuh pengabdian, dan memiliki peran yang sangat penting dalam menyiapkan sumber daya manusia(SDM) bangsa.

Dhandang Gula.( Serat Wulangreh, PB IV)
Ingkang wus tumukul
Tan mikir pawehing liyan
Iku pantes yen sira guronana kaki
Sartane kawruhana

Nyanyian ini menggambarkan betapa pentingnya berguru dan mencari ilmu dengan cara yang sungguh-sungguh. Jadi guru harus memiliki kualitas tertentu, baik martabatnya, mengerti aturan, ahli ibadah, hidup sederhana, tulus dan fokus pada profesinya.

Pak Guru (Murry, Koes Plus)
Abot sanggane tugase bapak ibu guru
Saben dinane mimpin putra-putrine
Pancen pak guru kudu sabar atine
…………………….
…………………………..
Esuk lan sore penjaluke pak guru
Supoyo mulyo kabeh putra putrine

Menggambarkan betapa berat tanggungjawab seorang guru, harus memimpin, menasehati dan mendidik putra-putrinya dan berharap agar putra-putrinya hidup di jalan yang lurus, istiqomah dan mulia.

Semua Sama (Yok Koeswoyo Koes Plus)
Oh guru sungguh mulia pengabdianmu
Oh guru penuntut ilmu

Syairnya singkat yang menunjukkan betapa mulia kedudukan seorang guru. Memiliki pengabdian yang tinggi. Dan sebagai pengembang dan penutut ilmu.

Oemar Bakri (Iwan Fals)
Oemar Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri professor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Ini menggambarkn perjuangan seorang guru yang sederhana dan mampu mendidik murid-muridnya hingga pandai.Tapi profesinya belum mendapat perhatian secara wajar.

Bab III. Pendidikan Berkarakter

Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Yang dilandasi hakekat dan tujuan pendidikan.Berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan , atau pun sifat-sifat lain yang melekat pada diri pendidik.

Kenyataan, betapa lemahnya integritas guru terhadap pekerjaannya, betapa lemahnya amanah yang diemban oleh guru, dan belum bisa dijadikan teladan. Tiap tahun ada berbagai bentuk kecurangan dan pelanggaran pada saat pelaksanaan UN. Sehingga system pendidikan jadi rusak.

Pentingnya Pendidikan berkarakter.
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang system Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter bisa diubah melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi:…. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri sendiri….. (Ar Ra’d/13;11)

Platform pendidikan berkarakter bangsa Indonesia dipelopori oleh Ki Hajar Dewantoto, walaupun belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh bangsa ini. Yang berbunyi:
Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mbangun karsa, Tut wuri handayani.
Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kehendak, dan dibelakang memberikan dorongan.
Selain itu guru juga memiliki makna “digugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) Hal ini secara tidak langsung memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu profil dan penampilan guru harus menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Gambaran pendidikan berkarakter bisa dilihat pada syair tembang Dhondhong apa Salak Tembang tersebut mempunyai filosofi dan nilai yang tinggi dan bermakna. Buah kedondong kulitnya halus tapi dalamnya berduri, buah salak, kulitnya kasar tapi dalamnya halus. Keduanya tidak dipilih, yang dipilih buah duku yang kecil, kulitnya halus, dalamnya juga halus. Naik bendi tidak dipilih karena menyakiti hewan, naik becak tidak dipilih karena memeras tenaga manusia. Yang dipilih berjalan pelan-pelan. Jadi betapa indahnya jika nilai pendidikan berkarakter yang ada pada tembang tersebut melekat pada diri insan yang hidup di dunia ini. Di sisi lain juga menggambarkan betapa pentingnya mengarungi aktivitas kehidupan didasarkan kemampuan sendiri tanpa harus memberatkan , merugikan, menyusahkan atau menyengsarakan pihak lain.

Kita dapat belajar dari kisah nabi Musa AS dengan Khidir. Khidir sebagai guru dalam mendidik Musa( muridnya) ingin membangun landasan yang kokoh , yaitu membentuk karakter yang kuat pada murid, sehingga ujian mental,terutama kesabaran, kedisiplinan, keuletan yang ditanamkan oleh guru kepada muridnya. Disini terlihat bahwa dalam membangun karakter yang kuat membutuhkan suatu proses tertantu sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat mengakar.

Dari pernyataan tersebut tampak relevan jika tenaga pendidik atau guru harus memiliki karakter yang kuat dalam menjalankan tugasnya di bidang pendidikan . Guru harus memiliki kepribadian khusus yang menjadi ciri khas atau yang membedakan dengan profesi yang lain.

Bab IV. Bersyukur Menjadi Pendidik (Guru)

Di bab ini penulis memaparkan perwujudan syukur, orientasi bersyukur, dan aktualisasi bersyukur.Kekuatan bersyukur harus dimiliki oleh guru. Karena kekuatan ini turut memberikan andil yang cukup besar untuk mencapai kesuksesan. Bentuk penyikapan yang paling tepat adalah kita harus mensyukuri profesi kita. Dengan kata lain agar profesi guru menjadi sesuatu yang membahagiakan maka kita harus bersyukur . Seperti yang tertulis dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:”Jika kamu bersyukur, maka saya (Allah) akan menambah (nikmat) itu kepadamu, dan jika kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih”

Sebenarnya Guru yang bersyukur selalu fokus pada apa yang dimilikinya. Menikmati apa yang ada bukan berarti menyesali dan meratapi apa yang tidak ada atau yang hilang dari genggaman kita. Kita tidak selalu dapat memperoleh apa yang diinginkan Yang terpenting kita dapat menikmati apa yang kita miliki, sehingga kita dapat membahagiakan diri kita sendiri

Perwujudan bersyukur terhadap suatu kenikmatan yang telah diterima bukan sekedar suatu ucapan atau pernyataan tapi berkaitan dengan perbuatan atau tindakan.Maka perwujudan rasa nikmat profesi guru harus ;
1. Menerima secara positif profesi sebagai pendidik Jangan terlalu banyak ijin dan meninggalkan tugas mengajar.
2. Tidak zhalim terhadap profesi yang diemban. Jangan terlalu sering terlambat masuk kelas. Jangan mengerjakan pekerjaan lain pada jam-jam mengajar. Itu perbuatan dhalim.
3. Menjaga dan mengembangkan profesi pendidik dengan sungguh-sungguh. Tidak mau berusaha mengembangkan diri, merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki.Ini namanya tidak bersungguh-sungguh dalam mengemban profesi.

Orientasi Bersyukur. Dalam hal ini kita harus bisa menerapkan bahwa jika kita mencari ilmu kita harus melihat yang di atas sedangkan dalam mencari harta kita melihat orang yang berada di bawah kita. Ilmu adalah sebagai penerang yang mampu mengubah jalan keburukan, kebodohan dan yang melahirkan kebijakan dalam berbagai masalah-masalah kehidupan.

Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Ilmu lebih utama daripada harta, karena 7 alasan, yaitu:
1. Ilmu adalah warisan para nabi sedang harta warisan Fir’aun
2. Ilmu tidak akan berkurang karena diberikan kepada orang lain, sedang harta akan berkurang bila diberikan pada orang lain.
3. Harta perlu dijaga sedang ilmu dapat menjaga pemiliknya.
4. Jika seseorang meninggal dunia, ia akan meninggalkan hartanya, sedang ilmu akan dibawa ke dalam kubutnya
5. Harta dapat dicapai oleh orang mukmin dan kafir, sedang ilmu hanya dapat dicapai oleh orang mukmin
6. Semua orang butuh orang yang memiliki ilmu, yang mengetahuo urusan agama dan mereka tidak membutuhkan hartanya
7. Ilmu akan menguatkan seseorang dalam menyebrangi shirath (jalan menuju surga) sedangkan harta akan menghalinginya.

Ibnu Qoyyim (1996:32) menggambarkan orientasi bersyukur dengan 5 tanda-tanda keberuntungan dan kebahagiaan seseorang, yaitu;
1. Setiap ilmunya bertambah, maka bertambahlah tawadhu dan kasih sayangnya
2 Setiap amalnya bertambah, maka bertambah rasa takut dan kehati-hatiannya
3 Setiap kali umurnya bertambah, maka berkuranglah ketamakan dan kerakusannya
4 Setiap hartanya bertambah, maka bertambahlah kedermawanan dan pengorbanannya
5 Setiap kedudukannya bertambah, maka bertambahlah kedekatannya kepada sesama manusia, memenuhi kebutuhannya, dan rendah hati

Aktualisasi bersyukur. Sebagai manifestasi rasa syukur, maka bisa dilihat dari sudut pandang keberadaan, kebermaknaan, kebermanfaatan profesi kita sebagai pendidik. Peran pendidik bisa diklasifikasikan menjadi kelompok:
1. Manusia Wajib. Manusia yang keberadaan, kebermaknaan, dan kemanfaatannya sangat menentukan. Dia menjadi kunci dan menentukan.
2. Manusia Sunnah. Manusia yang kehadirannya dan keberadaannya memberi kebermaknaan dan kebermanfaatan , tetapi jika ia tidak ada tidak akan mengganggu atau menggoyahkan jalannya system penyelenggara kegiatan.
3. Manusia Mubah. Manusia yang ada atau tidak ada, hadir atau tidak hadir, ia tidak memberikan pengaruh apa-apa, tidak memberi manfaat tetapi juga tidak memberikan mudharat.
4. Manusia Makruh. Manusia yang kehadirannya dan keberadaannya tidak memberikan kebermaknaan dan kebermanfaatan, tetapi jika ia tidak ada akan memberi kenyamanan dan kebaikan jalannya system penyelenggaraan kegiatan.misalnya guru yang mengajar dengan konsep yang salah. Manusia ioni kebalikan dari manusia Sunnah.
5. Manusia Haram. Manusia yang keberadaan dan kebermaknaan, dan kebermanfaatannya sangat tidak diharapkan sama sekali. Ia sebagai “trouble maker” Kehadirannya berpengaruh negative. Manusia ini kebalikan dari Manusia Wajib.

Dari gambaran di atas diharapkan peran guru dapat memposisikan diri sebagai manusia Wajib atau setidaknya menjadi manusia Sunnah.

Bab V. Mendidik Sebagai Amanah

Dalam dunia pendidikan amanah terutama terjadi antara masyarakat sebagai pemberi amanah dan lembaga pendidikan sebagai penerima amanah. Secara khusus orangtua menyerahkan anaknya kepada guru agar dididik dan dikembangkan potensinya. Tidak mengkhianati amanah merupakn bentuk komitmen dalam mengemban amanah, terutama yang berkaitan dengan kejujuran. Banyak sekali kisah-kisah tentang kejujuran yang bisa diteladani oleh guru sebagai pendidik.
Di manakah martabat akan bersanding kalau bukan di samping kejujuran?(Cicero).

Upaya Mengemban Amanah
Agar amanah dapat diemban dengan baik, maka diperlukan upaya-upaya agar suatu lembaga tertentu dapat mengemban amanah yang dipercayakan oleh masyarakat.Terutama diperlukan adanya, komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten.

Komitmen merupakan langkah awal dalam menerima, memenuhi, dan mengemban amanah.Sebagai perwujudan langkah awal tersebut adalah adanya ikrar atau janji yang harus dipenuhi. Setidaknya ada lima hal yang berkaitan dengan komitmen yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik, yaitu:
1. Memiliki visi ke depan dan tekad dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik
2. Memiliki karakter, budi pekerti, dan akhlak yang mulia
3. Mampu mengelola dan mengontrol diri dalam mendidik peserta didik.
4. Mampu melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik
5. Bekerja keras dengan penuh pengabdian.

Dapat dikatakan bahwa komitmen seorang guru dalam mendidik adalah sebuah janji atau ikatan untuk mengemban tugas mendidik yang dilakukan sebaik-baiknya agar tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena tidak mampu, karena tidak komitmen. (Zig Ziglar, Motivator)


Kompeten. Guru yang kompeten adalah guru yang memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan pembelajaran dan kemampuan memecahkan berbagai masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Guru yang kompeten akan memberi kepercayaan diri kepada muridnya. Mampu memfasilitasi muridnya agar muridnya lebih berkompeten. Karena kompetensi merupakan kemampuan yang harus dipupuk dan dikembangkan melalui berbagai proses pembelajaran, menekuni pekerjaan, dengan sungguh-sungguh, dan bahkan berani mengambil resiko untuk menghadapi tantangan.

Kompetensi yang cukup penting adalah kompetensi yang dirumuskan oleh para ulama yang disebut dengan “Kompetensi Profetik” atau disebut dengan “Kompetensi SAFT ( SAFT competency ) . Kompetensi SAFT adalah singkatan dari “Shidiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh”
1. Kompetensi Shidiq. Pengertian shidiq dapat dijabarkan memiliki system keyakinan untuk merealisasi visi,misi dan tujuan. Dan memiliki kemampuan kepribadian yang stabil, dewasa, arif, jujur dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
2. Kompetensi Amanah. Pengertian amanah dapat dijabarkan sebagai; rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi, memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal, memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup, dan memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan
3. Kompetensi Fathonah. Pengertian fathonah dapat dijabarkan : memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan jaman, memiliki kompetensi yang unggul, bermutu, dan berdaya saing, memiliki kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual
4. Kompetensi Tabligh. Pengertian tabligh bila dijabarkan; memiliki kemampuan merealisasi pesan atau misi, memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif dan memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metode dengan tepat.

Kerja Keras. Kerja keras dapat didifinisikan sebagai kemampuan mencurahkan atau mengerahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dimiliki sampai akhir masa suatu urusan hingga tujuan tercapai. Kerja keras merupakan modal yang sangat penting dalam memperbaiki dan mengembangkan sesuatu. Upaya kerjakeras itu akan menumbuhkan tingkat kepercayan dan keyakinan seseorang dalam mencapai atau menginginkan sesuatu.

Buatlah usaha Anda berhasil dengan satu-satunya cara; kerja keras (Mark Cuban, Owner Dallas Maverick)

Konsisten. Guru dalam mengemban tugasnya harus memiliki kosistensi, berarti ia selalu istiqomah, ajeg, fokus, sabar, dan ulet. Guru selalu melakukan perbaikan secara terus menerus juga termasuk guru yang konsisten.
1. Istiqomah. Guru harus istiqomah, artinya ia harus teguh dalam memegang prinsip dan memiliki pendirian yang keras dalam bekerja selalu mendasarkan norma, aturan, dan kaidah. Ia tidak terpengaruh oleh lingkungan tetapi sebaliknya.
2. Ajeg. Guru harus secara ajeg melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaannya. Jadi seorang guru harus ajeg belajar maka ia akan selalu berkembang ilmunya. Berarti ia menerapkan prinsip belajar seumur hidup. Seperi dalam hadist dinyatakan “ Menuntut ilmu itu mulai dari ayunan bunda hingga liang lahat”
3. Fokus dan tuntas. Guru harus focus pada bidang studi keahliannya sehingga ia memiliki konsentrasi kajian yang mendalam. Berarti ia menguasai bidang studi tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.Selain itu ia juga harus mampu menyelesaikan pekerjaannya secara tuntas. Artinya sebelum menginjak pada pekerjaan berikutnya ia mampu menyelesaikan pekerjaan secara akurat.
4. Sabar dan Ulet. Guru yang konsisten, ia harus mau dan mampu melakukan sesuatu dalam dalam waktu yang relative lamawalaupun banyak cobaan , rintangan, ataupun tantangan. Renungkanlah kesabaran dan keuletan Khidir dan Musa dalam belajar mengajar. Perjalanan Nabi Muhammmad SAW bersam Zaid bin Haritsah ke Thaif. Cheng Men Lie Ye; Sabar menggapai cita-cita.

Pada masa sekarang, sarana dan media pembelajaran sangat maju dan tersedia dengan mudah. Persoalannya adalah bagaimana kerja keras, sabar,dan ulet selalu melekat pada diri kita agar dapat mengembangkannya dengan maksimal.

Bab VI. Mendidik dengan Keteladanan

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah (Al-Ahzad/33:21)

Jika keteladanan Rasulullah sebagai Al-Quran hidup diterapkan pada guru, maka seharusnya guru sebagai “Mata pelajaran hidup”:”Geografi hidup, Matematika hidup, Fisika hidup, dan sebagainya”. Artinya kedalaman dan keluasan ilmu (bidang studi) guru betul-betul terandalkan.

Faktor keteladanan yang seharusnya ada pada diri seorang guru;
1. Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Ini akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan prilakunya menjadi sorotan dan teladan.
2. Memiliki kompetensi Minimal. Maksudnya kompetensi ini bisa dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain, dapat menumbuhkan dan menciptakan keteladan, terutama bagi peserta didknya.
3. Memiliki Integritas. Integritas adalah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satu kata satu perbuatan. Letaknya pada kualitas istiqomah yang berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya.

Pendidik sebagaiCermin. Orang mu’min adalah cermin bagi orang mu’min (yang lain). Jika ia melihat cela padanya maka diperbaikinya (HR.Bukhari). Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
1. Tempat yang tepat untuk intropeksi.
2. Menerima dan menampakkan apa adanya
3. Menerima kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
4. Tudak pilih kasih/ tidak deskriminatif
5. Pandai menyimpan rahasia.

Mendidik dengan Keteladanan
1. Kesederhanaan. Guru harus pandai membawakan diri sehingga terkesan sederhana dan bersahaja tetapi punya kepiawaian dalam mengajar.
2. Kedekatan. Kedekatan hubungan guru dengan siswa sangat ini hampir tidak ada. Padahal dengan kedekatan ikatan antara guru dan murid dapat terjalin.
3. Suasana silahturahim. Fungsi silahturahim antara lain adalah menumbuhkan rasa kecintaan dan rasa saling peduli. Jika silahturahim diterapkan dalam suasana pembelajaran tentu akan kondusif baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa.
4. Pelayanan Maksimal. Maksudnya tugas utama guru adalah menfasilitasi murid, atau guru sebagai fasilitator. Memfasilitasi yang dimaksud pada hakikatnya sebagai perwujudan bentuk pelayanan guru kepada murid (guru sebagai pelayan)Guru dapat mengadopsi filosofi jawa dalam menerima, menghormati, dan melayani tamu dalam suatu perjamuan dengan empat sikap dan prilaku “4-uh”, yaitu: (1) aruh (tegur sapa) murid harus disambut ramah oleh guru; (2)gupuh (sibuk-repot) guru penuh perhatian dan melayani murid dengan sungguh-sungguh;(3) lungguh (duduk-tempat) Guru menyiapkan pembelajaran dalam suasana yang kondusif; (4)suguh (hidangan-sajian) Murid dapat menikmati pembelajaran yang menarik dari guru bagaikan mendapat hidangan yang lezat dalam suatu perjamuan.

Bab VII Mendidik dengan Hati

Hati merupakan sesuatu yang paling mulia pada diri manusia. Peran hati terhadap seluruh anggota atau organ tubuh dapat diibaratkan seperti raja dan prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya.

Kemampuan guru untuk membuka hati peserta didik sangat diperlukan. Untuk membuka hati peserta didik, guru harus berupaya membangkitkan “rasa cinta” kepada peserta didik demikian juga sebaliknya agar peserta didik memiliki rasa cinta dan bersimpati dengan gurunya. Dalam konteks cinta ini maka peran suara hati sab\ngat penting artinya sekaligus merupakan kunci keberhasilan dalam mendidik peserta didik.

Seseorang mempelajari tentang orang lain melalui hati, bukan melalui mata dan pikiran
(Mark Twin).

Untuk mengaktualisasikan pendidikan dan pembelajaran dengan suara hati, maka guru dapat mendasarkan pada:
1.Mendidik untuk mencari keridhaan Yang Maha Kuasa
2.Mendidik merupakan tugas mulia
3.Mendidik merupakan tugas utama guru

Inti pendidikan dengan hati adalah membangun sebuah motivasi yang tumbuh dari dalam diri secara ikhlas. Dengan kata lain bagaimana menumbuhkan motivasi internal untuk melakukan suatu aktivitas. Motivasi internal itu jauh lebih bermakna dalam melakukan sesuatu bila dibandingkan dengan aktivitas yang dilandasi motivasi eksternal. Dorongan inilah yang membangkitkan sebuah kesadaran dalam melakukan sesuatu, yang pada gilirannya skan membangun sebuah sistem kepercayaan atau keyakinan.

Sebaik-baik yang tertanam di dalam hati adalah keyakinan (HR. Al-Baihaqi)

Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan doamu, dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (HR. At-Tirmidzi)

Sistem Keyakinan (Believe System). Keyakinan (system keyakinan) merupakan sesuatu yang terbaik yang tertanam dalam hati seseorang. Jadi harus dibangun dengan benar dan kokoh. Karena keyakinan sangat berpengaruh dalam mewujudkan tujuan, termasuk tujuan pendidikan. Sistem keyakinan akan mengarahkan pada pada tindakan yang dilakukan. Sistem keyakinan dapat dikatakan sebagai sumber atau rohnya komitmen.

Apakah system keyakinan itu akan menjadi kenyataanatau dapat kita wujudkan atau tidak, sangat tergantung pada diri kita sendiri. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Qudsi yang berbunyi;”…..Sesungguhnya Allah berfirman;’ Aku (Tuhan) menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-ku. Dan Aku bersamanya jika ia berdo’a kepada-Ku
(HR. At-Turmudzi)

Sistem keyakinan harus dibangun melalui berbagai upaya yang diarahkan pada terwujudnya cita-cita atau tujuan sehingga dapat menumbuhkan keyakinanyang nyata serta membangkitkan semangat yang tinggi.

Bab VIII. Paradigma Pembelajaran

Fokus pembelajaran diarahkan pada upaya agar murid kelak mampu mengembangkan lebih lanjut apa yang telah didapat sewaktu studi. Sejalan harapan terseburt Indra Djati Sidi (2001:7) Proses pembelajaran di sekolah-sekolah masa depan memerlukan tujuan yang secara aktif merespons perubahan dan arus teknologi, terutama teknologi informasi
.
Dryden dan Vos (2000:107) mengemukakan bahwa belajar seharusnya memiliki tiga tujuan yaitu;
1. Mempelajari ketrampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik
2. Mengembangkan kemampuan konseptual umum, sehingga mampu belajar menerapkan konsep yang sama atau yang berkaitan dengan bidang-bidang lain yang berbeda.
3. Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala tidakan.

Sedangkan De Porter dan Hernacki (2000:8) mengemukakan bahwa kurikulum sekolah berisi kombinasi tiga unsur yang disajikan secara harmonis, yaitu;

1.Ketrampilan akademik(Academic skill)
2.Ketrmpilan hidup (Life skill)
3.Tantangan-tantangan atau kemampuan fisik(Pysical Challenges)

Maka sangat diperlukan sosok guru yang memiliki karakter kuat dan mampu berpikir dan bertindak cerdas.

Mengajar yang Mendidik. Tahap awal yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah “ Memiliki kemampuan mengajar dengan benar” selanjutnya mengembangkan diri dan “Memiliki kemampuan mengajar yang trampil dan produktif”. Artinya guru tidak hanya mampu merencanakan, melaksanakan , dan mengevaluasi pembelajaran, tetapi ia juga mampiu mengembangkannya dengan melandasi dan menanamkan nilai-nilai pendidikan.

Mengajar adalah Belajar.Guru yang konsisten dengan profesinya selalu belajar dan mengembangkan dirisetiap waktu dan sepanjang hayat. Implementasinya guru berpandangan bahwa ia bukan yang paling pintar, guru secara terbuka pada muridnya akan mencari jawaban, walau belum tahu jawabannya tapi berusaha untuk memecahkannya. Inilah salah satu fungsi guru sebagai Fasilitator atau pelayan. Di sisi lain jika guru tidak mau belajar, maka ia akan mengalami kesulitan bila dihadapkan pada pertanyaan yang diajukan muridnya. Padahal belajar juga berdampak pada suatu proses perbaikan secar terus menerus (Countinous improvement) dari seorang buru.

Suasana Pembelajaran. Suasana pembelajaran yang baik dapat digambarkan seperti “Suasana Surga”. Meminjam istilah “Rumahku adalah Surgaku”,”Sekolahku adalah Surgaku”. Maka perlu selalu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif agar hasil belajar yang diharapkan dapat meksimal.

Ada tiga indikator yang bisa membuat suasana pembelajaran yang kondusif, yaitu:
1. Menyenangkan/membahagiakan
2. Lingkungan kondusif (fisik dan non Fisik) dan
3. Layanan dan penampilan prima.

Sudiarto (2005-34) mengemukan bahwa suasana pembelajaran kondusif bisa dibantu dengan :
1. Menyediakan guru yang professional, yang seluruh waktunya untuk menjadi pendidik
2. Menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan
3. Menyediakan media pembelajaran yang kaya sehingga peserta didik belajar betul-betul menikmati belajar.

Pembelajaran yang berkualitas memiliki beberapa indicator, yaitu:
1. Pembelajaran yang menentang. Hal ini akan membuat anak didik punya rasa ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin memecahkan masalah tersebut. Tapi tingkat kesulitan pembelajaran yang menantang hendaknya disesuaikan dengan kadar kempuan peserta didik.
2. Pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong peserta didik untuk belajar dan tertarik terhadap pembelajaran tersebut.
3. Pembelajaran yang mendorong eksplorasi. Peserta didik terdorong untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sendiri pembelajaran yang telah disajikan guru sebagai tindak lanjutnya.
4. Pembelajaran yang memberi pengalaman sukses. Pengalaman sukses yang diperoleh peserta didik menumbuhkan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
5. Pmbelajaran yang mengembangkan kecakapan berfikir. Kemampuan berpikir dapat dilihat dari kretivitas peserta didik. Maka peran strategi atau metode mengajar yang dipilih guru harus tepat.

Bab IX Pendidik Unggul

Untuk membangun guru yang unggul ada tiga hal, yaitu penampilan terbaik (The best Appearance ), Sikap terbaik (The best Attitude),Prestasi terbaik(The Best Achievement):
1. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. (At-Tin:4).Penampilan Terbaik. Jika guru mampu berpenampilan positif maka murid memberi kesan positif pula. Ini akan memudahkan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Yang harus diperhatikan agar guru tampil terbaik: Posisi dan bahasa tubuh, gaya bicara dan expresi wajah, dan cara berpakaian.
2. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang yang menyerah diri?” (Fushilat/41:33).Sikap Terbaik. Hal ini bermakna betapa baiknya sikap harus ditunjukkan dan diamalkan. Manifestasi sikap yang terbaik dapat ditunjukkan pada sifat; peduli sosial dan orang lain, menebarkan salam dan kedamaian, bijak dalam bicara, santun dalam berbuat,dan baik dalam bersikap.
3. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Ia menguji kamu , siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Ia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Bekerja harus berorientasi pada hasil maksimal bukan hasil rata-rata. Agar dapat mencapai hasil maksimal kita harus berani melakukan kegiatan di luar kebiasaan rata-rata yang dilakukan orang. Untuk mewujudkan prestasi yang terbaik perlu dilakukan; Menjadi manusia yang terbaik. Kekuatannya ada pada SDM yang berkualitas, contohnya Jerman dan Jepang. Walaupun mereka kalah perang, tapi SDMnya tidak ikut hancur, sehingga mampu bangkit kembali dalam waktu yang dekat, mengunguli Negara yang menang perang.

Profil Guru Paripurna. Profil guru paripurna didsusun berdasarkan Kompetensi SAFT dan nilai-nilai yang terkandung dalam “Asmaul-Husna”(nama-nama Allah yang baik) Yang berjumlah 99. Dalam hal ini yang diketuk adalah suara hatinya

Bab X. Berpikir dan Bertidak Cerdas

Orang yang cerdik adalah orang yang dapat menaklukkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk kepada Allah. (HR. Abu Daud)

Umar bin Khattab mendifinisikan orag yang cerdas bukanlah orang yang mampu membedakan antara yang baikdan yang buruk, melainkan orang yang bisa mengetahui mana yang terbaik diantara dua kebaikan dan mana yang buruk diantara dua keburukan (Hasan Zakaria Fulaifal,2006:61). Difinisiini mencakup bukan saja aspek intelektual tapi juga mencakup aspek emosi dan spiritual.

Yang dimaksud dengan kecerdasan Intelektual (Intelegence Quotient) adalah kemampuan berurusan dengan abstraksi-abtraksi; kemampuan mempelajari sesuatu;kemampuan menangani situasi-situasi baru. Walaupun kecerdasn itelektual bukan satu-satunya factor yang menentukan keberhasilan seseorang , tetapi peran intelektual sangat penting dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis dan mensintesis objek, memberi objek , memberikan informasi tentang baik-buruk, dan untung rugi.

Sedangkan kecerdasan emosi (Emotional Quotient) adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya pada saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Stain and Book(2003:30) mengemukakan bahwa EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, yaitu aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan ,akal sehat yang penuh misteri,dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari.

Yang tak kalah penting adalah kecerdasan Spiritual (Spititual Quotient). Zohar dan Marshall (2007:4) mengemukakan bahwa kecerdasn spiritual adalah kecerdasn untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasn untuk menempatkan prilaku dan hidup kitadalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasn untuk menilai bahwa tidakan atau jaln hidup seseorang lebih bermakna disbanding dengan yang lain. Dan SQ merupakn landasan tertinggi kita. Lebih lanjut Zohar dan Marshall (2007:14) SQ berkembang mencakup hal-hal seperti berikut:
1. Kemampuan bersikap fleksibel(adaftif secara spontan dan aktif)
2. Tingkat kesadaran yang tinggi
3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. Kemampuan untuk menghadapi dan melawan rasa sakit
5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan “holistik”)
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
9. Menjadi apa yang disebut oleh psikolog sebagai “bidang mandiri”, yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Kecerdasn spiritual adalah kecerdasan ruhaniah, kecerdasn hati, dan kecerdasanjiwa. QS akan mengembalikan manusiakepada mahkuk spiritual, yang merupakn fitrah kejadiannya. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, manusia dapat berjalan menjauh dari fitrah tersebut disebabkan faktor-faktor eksternal, seperti cobaan, ujian, atau pengaruh lain. Kebahagian hakiki terletak pada pemenuhan yang bersifatspiritual tersebut.

Di dalam Islam untuk membangun kecerdasn spiritual diwujudkan dalam membangun suatu ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Taqwa memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan. Setidaknya ada tiga dimensi mengenai pentingnya taqwa dalam membangun kecerdasn spiritual, yaitu;
1. Sebaik-baik bekal hidup adalah taqwa;……Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal(Al Baqarah/2;197)
2. Semulia-mulianya kedudukan seseorang di sisi Allah adalah karena taqwanya;….Sesungguhnya semulia-mulianya kamu di sisi Allah karena ketaqwaanmu…….(Al Hujarat/49;13)
3. Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jalan keluar……..Barang siapa yang bertqwa kepada Allah niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (Ath Thalaaq/65;2)

Bab XI Penutup

Guru luar biasa adalah guru yang mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar pesrta didik dapat berkembang potensinya secara optimal

Sebagaimana yang telah diulas bahwa karakter kuat, terutama meliputi amanah dan keteladanan. Amanah dibangun atas dasar empat pilar, yaitu komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten. Sedangkan keteladanan dibangun diatas dasar tiga hal yaitu;kesederhaan , kedekatan dan pelayanan yang optimal. Adapun cerdas berkaitan dengan kecerdasn intelektual, emosi dan spiritual. Selanjutnya dari komponen tersebut dirumuskan rambu-rambu implementasi yang berupa;
A. Tujuan pembelajaran dan pendidikan yaitu;
1. Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan,
2. Menumbuhkan dan menanamkan kecerdasan emosi dan spiritual yang mewarnai aktivitas hidupnya
3. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran
4. Menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktivitas hidupnya dan memahami manfaat dari keterlibatannya
5. Menumbuhkan kebiasaan untuk memenfaatkan dan mengisi waktu luang dengan aktivitas belajar
6. Menumbuhkan pola hidup sehat dan pemeliharaan kebugaran jasman

B. Membangun Budaya Kerja. Komponen yang dijadikan acuan dalam membangun budaya kerja adalah;
1. Komitmen.2.kompeten.3. Kerja keras. 4.Kondsisten.5. Kesederhanaan.6. Kedekatan. 7. Pelayanan maksimal.8. Cerdas.

C. Profil Kerja yang diharapkan. Kinerja yang diharapkan dapat berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut;
1. Senantiasa memegang komitmen dengan sungguh-sungguh dalam mewujudkan visi,misi, dan tujuan pendidikan.
2. Senantiasa menjunjung tinggi martabat dan profesi guru
3. Senantiasa melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik.
4. Senantiasa bekerja keras dengan penuh pengabdian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar